“Sebaiknya kita intropeksi diri masing-masing dulu, karena pasti gax bakalan ada yang mau disalahkan antara kita”itulah sms terakhir vani yang bikin telingaku berdenging setelah satu jam lebih kami berdebat. Yah, mungkin memang ini yang harus kami lakukan untuk memperbaiki hubungan kami yang akhir-akhir ini kurang bagus bahkan bisa dibilang tidak bagus. Walaw sebenarnya aku sendiri gax mau terima kata- kata itu, karena seolah-olah vani menyalahkan aku dengan keadaan ini.

O ya kenalkan aku iyos, aku lulusan sebuah perguruan tinggi swasta dikota kelahiran-ku dan juga vani belahan jiwa-ku. Berbeda dengan vani yang lebih memilih bekerja setelah menamatkan studinya di SMA. Setelah lulus dengan membondong gelar Sarjana Ekonomi, aku memilih untuk pindah keluar kota, karena ada tawaran pekerjaan, yang lumayan bagus dengan posisi yang tepat sesuai jurusan kuambil di bangku perkuliahan dulu.

Dan semenjak terpisah oleh jarak, vani semakin hari menunjukan perubahan sikapnya padaku. Dari mulai jarang menghubungi aku untuk sekadar bertanya keadaanku, atau mengirimkan kata-kata mesra penyemangat hidupku. “love u say” atau “miss u forever” merupakan kata-kata yang selalu kudapati di setiap hari-hariku dulu, meski kita bertemu setiap hari. Tapi kini kata-kata itu sudah gax pernah kudapati lagi.

Hari ini tepat hari ketiga aku tidak menerima kabar dari vani setelah sms terakhir beberapa hari yang lalu dikirim ke ponselku. Aku sengaja tidak menghubungi vani karena menurutku dalam masa introspeksi diri sebaiknya kita memamg tidak berhubungan dulu berharap pada saat kita berkomunikasi lagi keadaan akan lebih baik dari sebelumnya.
Tapi rindu yang telah ku pendam beberapa hari ini tak bisa kutahan lagi. Kuraih ponselku mencoba mengetik beberapa kata untuk ku kirimkan ke ponsel vani,
“spada,.yang punya ponsel kemana aja yach,
Pa kabar say, lagi dimana neh??
Ku kangen berat neh, minggu ini aku pulang lo,.”
Kukirim pesan singkat ke ponsel vani. Satu menit,.sepuluh menit.,setengah jam berlalu tapi belum ada balasan dari vani, pikiranku mulai resah, hatiku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan vani, yups baru saja ku melipat sajadah setelah menunaikan shalat ashar, terdengar dering pesan masuk dari ponselku, setelah membaca pesan yang masuk ke ponselku semangatku berubah menjadi turun drastis
“sorry say baru balaz, tadi ku lagi dijalan bareng teman. Minggu ini kayaknya aku gax dirumah deh say, karena sekarang aku lagi diluar kota, ada temanku yang ngajak aku berkunjung kerumah keluarganya di luar kota”

Aku sangat kecewa, karena ini bukan vani yang kukenal, bukan vani yang antusias saat ingin bertemu denganku. Mungkin memang jadwal pulangku yang kurang tepat. Setelah lama ku berpikir, aku menemukan jalan untuk bertemu vani, karena kebetulan aku punya sodara yang tinggal dikota yang sama dengan sodaranya teman vani.
Kucoba menelepon vani, untuk memberitahu bahwa aku akan segera menyusulnya. Setelah beberapa kali kucoba, vani tidak mengangkat telepon dariku. Lalu aku memilih mengirimkan pesan singkat ke ponselnya vani.

“say, kamu baik-baik aja kan?koq telepon aku gax diangkat sich?, aku punya kabar bagus, aku susul kamu aja yach, kebetulan aku juga punya sodara dikota sodara teman kamu ini.”
Setelah menunggu lima belas menit aku baru terima balasan dari vani, “gax usah say, kamu liburnya pasti singkat kan, ntar pulang-pulangnya pasti capek, lagian buang-buang duit juga kan nyusul aku kesini.”
Jantungku berdegup kencang setelah membaca pesan singkat tersebut . benar-benar bukan seperti harapanku, karena kufikir vani akan sangat senang sekali dengan usulanku tadi,.hmmzz,.ya sudah mungkin vani ingin menikmati liburannya bersama temannya, berarti aku harus mengurungkan niatku ini,.
Dua hari berlalu, ponselku berdering menandakan ada laporan masuk, kulihat dan kubaca ternyata pemberitahuan dari facebook bahwa vani meng-up date statusnya. “kuyakin dia yang bisa membuatmu bahagia”. Otakku pun berfikir apa maksudnya?, tapi ku gax menanggapi tulisan tersebut, melihat kondisi hubungan kami saat ini, kesalahan kecil pun akan berubah jadi masalah besar.

Jantungku berdegup kencang setelah mendengar lantunan lagu group band tersohor negeri ini yang berjudul ‘jalan terbaik’. Dari awal mendengarkan liriknya “semua telah berakhir,tak mungkin bisa dipertahankan.,.,.,” sengaja ku dengar lagu ini karena siang tadi vani membagikannya lewat akun facebooknya padaku. Apa artinya semua ini, apa vani menginginkan hubungan kami berakhir. Seperti biasanya yang kulakukan aku tidak menggapinya, aku juga tidak ingin bertanya pada vani karena aku tidak mau memperparah hubungan kami,.yaa aku memang sangat menyayangi vani, aku juga tidak menginginkan hubungan kami berakhir disini, aku yakin vani adalah cinta terakhirku, seperti yang selalu diucapkan vani dulu padaku “ku yakin kamulah belahan jiwaku, kamu cinta terakhirku, kamu jodohku, jangan pernah tinggalkanku, aku gax mau kita berpisah”, kata-kata itu selalu terngiang di telingaku.

Kulihat di ponsel ku ada pemberitahuan penerimaan tautan tembang – tembang kesedihan yang dilantunkan group band terkenal negeri ini yang untuk kesekian kalinya dikirimkan vani lewat akun facebooknya. yah, sudah beberapa hari ini aku menerima pemberitahuan yang sama.

Sejak saat itu komunikasi antara kami kurang lancar, vani jarang sekali menghubungiku, aku sudah berusaha mengalah, aku yang harus berinisiatif menghubungi, berharap hubungan kami akan baik-baik saja. Setiap kali aku mencoba menghubunginya, tapi hanya beberapa yang ditanggapi, lebih sering tidak diindahkannya. Vani jarang membalas pesan singkat dariku, gax pernah mau angkat telpon dariku dengan alasan sibuk. Tapi ku tetap mencoba berpikir positif, karena begitu sayangnya aku pada vani.

Pagi ini kucoba menelepon vani, aku ingin memberi kabar minggu ini akan pulang 4 hari, lumayan long weekend. Tapi sepertinya dia lagi sibuk karena sudah beberapa kali kucoba tidak pernah diangkat, lalu kukabarkan saja melalui sebuah pesan singkat. Wah, tumben kali ini ditanggapi dengan cepat, tapi isinya sungguh tidak mengenakan hatiku, vani menolak bertemu denganku, lagi-lagi dia pergi keluar kota berkunjung kerumah pamannya yang gax terlalu jauh. Walaupun begitu aku tetap bertekat ingin kembali ke kota ku dengan harapan vani berusaha menemuiku.

Hari ini cuacanya kurang bagus, keberangkatanku ke kota kelahiranku diiringi gerimis, tapi tidak menyulutkan semangatku sedikitpun. Dalam perjalananku aku berdoa agar vani akan menemuiku nanti, aku menggambarkan kita akan menghabiskan waktu bersama selama masa liburanku.

Harapanku buyar karena sampai hari ini aku mau balik ke perantauanpun vani tidak memunculkan diri dihadapanku. Sedih rasanya harapanku tidak tercapai, aku kembali dengan rasa kecewa yang sangat dalam.

Aku berangkat kerja dengan lesu mengenang liburanku tidak seperti harapanku. Vani benar-benar telah berubah. Aku sepertinya belum sanggup untuk kehilangan vani. Hari ini tidak begitu banyak yang harus kukerjakan dikantor, kucoba membuka akun facebookku melalui komputer kantor. What,.,sontak aku kaget ketika melihat pemberitahuan kalau vani telah mengganti statusnya di facebook menjadi lajang tanpa sepengetahuanku, hmmzz dulu kita sepakat status di facebook kita berpacaran. Tapi hari ini dengan apa yang telah diperbuat vani membuat ku shock. Kucoba untuk menelepon vani, tapi usahaku sia-sia, dia sama sekali tidak mengangkat telepon dariku.

Hatiku hancur,.,.tak berapa lama selang waktu vani mengirimi ku pesan. Dengan kata-kata manis yang biasanya dilontarkan kepadaku. Kami beradu argumen, saling memberi penjelasan. Tapi tetap berujung dengan rasa sakit karena vani meminta kami untuk mengakhiri hubungan ini, vani menjelaskan dia merasa bosan dengan keadaan hubungan kami saat ini, bosan dengan hubungan yang hanya penuh pertengkaran, (yang menurutku selalu vani yang memulai untuk itu).
Kucoba untuk menerima keadaan ini, mungkin vani memang bukan jodohku. Sejak saat itu ku berusaha mengalihkan fikiranku tentang kenangan bersama vani dulu walaupun sangat berat kehilangan orang yang sangat disayang. Berupaya mengusir fikiranku tentang kisah kami dulu, karena sekarang sudah tidak ada ‘kami’ hanya ‘aku’ dan ‘vani’.