Niat Puasa Sunah, Bolehkah di Siang Hari ?
Shodiq Ramadhan | Kamis, 29 November 2012 | 09:11:42 WIB | Hits: 1250 | 0 KomentarMore Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on google Share on favorites Share on print

Diasuh oleh:
Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang-Jawa Timur
Pertanyaan Kirim Ke: redaksi@suara-islam.com

Assalamu’alaikum Warohmatullah. Kalau melakukan puasa sunnah (senin-kamis) tanpa niat sebelumnya, tiba-tiba langsung puasa (di siang hari) bagaimana ?

Moh. Amin-Surabaya

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Niat wajib dilakukan jika hendak berpuasa, baik puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa kaffaroh, puasa Qodho’ dll maupun puasa sunnah seperti puasa Arofah, puasa Asyuro’, puasa putih, puasa senin-kamis, dll. Bahkan niat wajib dilakukan pada seluruh ibadah mahdhoh apapun jenisnya. Semua ibadah yang tidak disertai niat, maka ibadah tersebut tidak sah. Dalil wajibnya niat adalah hadis berikut;

صحيح البخاري (1/ 3)
عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Dari Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan tiap orang mendapatkan apa yang diniatkan (H.R. Bukhari)

Berdasarkan hadis di atas, orang yang menahan diri dari makan dan minum tapi tidak berniat ibadah, misalnya karena mogok makan, maka dia tidak mendapatkan pahala apapun.

Hanya saja terkait puasa sunnah, niat boleh dilakukan di siang hari meskipun setelah terbit fajar. Dalil yang menunjukkan kebolehan ini adalah hadis berikut ini;

صحيح مسلم (6/ 26)
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” (H.R. Muslim)

Dalam hadis di atas, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa sunnah. Ketika niat puasa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam ternyata dilakukan di siang hari, yakni setelah terbut fajar karena beliau tidak mendapati makanan di rumahnya yang bisa diimakan, maka hal ini menunjukkan puasa sunnah boleh diniatkan di siang hari.

Sejumlah shahabat  seperti Abu Ad-Darda’, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Abu Thallah dan Abu Hurairah  juga memiliki kebiasaan seperti Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam ini. Yakni berniat puasa sunnah di siang hari jika tidak mendapatkan makanan yang bisa di makan di rumahnya. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (7/ 4)
وَقَالَتْ أُمَّ الدَّرْدَاءِ كَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُولُ عِنْدَكُمْ طَعَامٌ فَإِنْ قُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ يَوْمِي هَذَا وَفَعَلَهُ أَبُو طَلْحَةَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَحُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Ummu Ad-Darda’ berkata: Kebiasaan Abu Ad-Darda’ jika bertanya: Apakah ada makanan?,lalu kami menjawab: Tidak, maka beliau berkata; Aku puasa hari ini. Abu Tholhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah juga melakukan kebiasaan ini (H.R. Bukhari)

Adapun hadis yang mewajibkan niat harus di malam hari sebelum terbit fajar, misalnya hadis berikut ini;

سنن النسائي (8/ 33)
عَنْ حَفْصَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا يَصُومُ

Dari Hafshah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka ia -dianggap- tidak berpuasa.” (H.R. An-Nasai)

Lafadz lain berbunyi;

سنن النسائي (8/ 31)
عَنْ حَفْصَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Dari Hafshah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, tidak ada puasa baginya.” (H.R. An-Nasai)

Hadis ini dan yang semakna dengannya hanya berlaku bagi puasa wajib. Artinya puasa wajib niatnya harus di malam hari sebelum terbit fajar, sementara puasa sunnah niatnya boleh di malam hari sebelum terbit fajar dan boleh juga di siang hari. Dengan kata lain, hadis yang membolehkan niat puasa di siang hari telah mentakhsish keumuman hadis yang memerintahkan berniat di malam hari.

Menafsirkan bahwa Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah berniat puasa sunnah di malam hari pada hadis Aisyah di atas, demi menguatkan pendapat bahwa niat puasa sunnah tetap wajib di malam hari adalah takwil yang terlalu jauh, yang tidak didukung riwayat maupun siyaq  (konteks) hadis Aisyah.

Hanya saja, untuk keabsahan berniat puasa sunnah di siang hari disyaratkan tidak boleh makan apapun sebelum niat tersebut termasuk semua hal yang membatalkan puasa seperti minum, jimak, dll. Jika hal-hal yang membatalkan puasa itu dilakukan sebelum berniat, maka niat puasa sunnah sesudah itu tidak sah. Ibnu Qudamah mengatakan;

المغني (6/ 54)
مِنْ شَرْطِهِ أَنْ لَا يَكُونَ طَعِمَ قَبْلَ النِّيَّةِ ، وَلَا فَعَلَ مَا يُفْطِرُهُ ، فَإِنْ فَعَلَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ ، لَمْ يُجْزِئُهُ الصِّيَامُ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ نَعْلَمُهُ .

Diantara syaratnya adalah belum makan sebelum berniat, dan juga tidak melakukan apapun yang membatalkan puasa. Jika melakukan apapun dari hal-hal tersebut, maka puasanya tidak sah tanpa ada perselisihan yang kami ketahui (Al-Mughni, vol.6, hlm 54)

At-Thohawy meriwayatkan;

معاني الآثار (4/ 104)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يُصْبِحُ حَتَّى يُظْهِرَ , ثُمَّ يَقُولُ ( وَاَللَّهِ لَقَدْ أَصْبَحْتُ , وَمَا أُرِيدُ الصَّوْمَ , وَمَا أَكَلْت مِنْ طَعَامٍ وَلاَ شَرَابٍ مُنْذُ الْيَوْمِ , وَلاََصُومَنَّ يَوْمِي هَذَا

Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau berada di pagi hari hingga waktu dhuhur, kemudian beliau berkata; Demi Allah aku telah berada di waktu pagi sementara aku tidak menginginkan/berniat puasa. Dan aku tidak makan makanan ataupun minuman  apapun di hari ini. Aku sungguh akan berpuasa hari ini (Ma’ani Al-Atsar, vol.4, hlm 104)